Kutebar mahkotaku...

Photobucket
Bismillahirrahmanirrahiim...
Ahlan wa sahlan..
selamat datang di blog saia, bunga perantau
setangkai bunga yang tumbuh di peradaban..
berharap bisa berbagi kisahnya dalam perjalanan penuh makna
agar layunya tak membusuk tanpa arti
agar layunya mendapat tempat yang indah di museum hamba-hamba terpilih

Jundullah Always, insya Allah

21.12.08

Bahaya Permisifitas dalam Dakwah

Bismillahirohmanirohim,..
ada posting bagus dulu..banget oleh mbak lathiyfah,, pengen dibagi aja, biar kauand taw,,


Mihwar dakwah yang semakin meningkat menghadirkan sebuah konsekuensi logis akan keterlibatan dakwah dalam sebuah struktur, baik secara kemasyarakatan (horizontal) maupun secara ketatanegaraan (vertikal). capaian mihwar dakwah yang telah menginjak anak tangga muasasi telah menghadirkan situasi dan kondisi yang semakin beragam, tantangan yang semakin besar, serta tekanan dalam mempertahankan ideologi Islam yang diusung oleh jamaah dakwah ini.
Ketika jamaah dakwah ini telah memutuskan untuk bersiyasah, maka ada konsekuensi2 logis yang harus ditanggung. Langkah ini merupakan sebuah lompatan besar dalam dakwah, oleh karena itu, harus diusung oleh orang2 yang berjiwa dan pikiran besar pula. Tidak terbayangkan jika pengusungnya adalah orang2 yang hati dan jiwanya kerdil, otomatis org2 seperti ini akan terjebak dalam kepentingan politis yang semu dan temporal.
Padahal, jamaah dakwah ini memiliki Visi yang luar biasa agungnya, yaitu: menjadikan Islam sebagai soko guru dunia (ustadziyatul 'alam) dengan salah satu Misinya adalah: Menegakkan kekhilafahan.
Orang-orang kerdil yang tidak punya visi itulah yang kemudian membuat dakwah hanya berjalan di tempat saja. Dengan basis pemikiran (qo'idah fikriyyah) seperti merekalah jalan dakwah yang telah dirintis oleh para muassis dakwah akan hancur, sehingga gerakan dakwah ini akan kembali pada starting point lagi.
Keputusan2 org2 kerdil yang cenderung mengikuti arus inilah yang akan membuat jamaah dakwah ini jauh dari Allah, karena keberadan partai dakwah yang tadinya ditujukan untuk membuktikan bahwa politik tidak selamanya bersifat profan, malah menuai hasil kontraproduktif: bahwa ya! politik memanglah hal yang bersifat profan.
Solusi mengatasinya hanyalah kembali kepada ash sholah dakwah, bahwa dakwah ini adalah seruan untuk mengajak kepada yang haq dan mencegah dari yang mungkar. Dan tidak ada toleransi antara yang baik dan yang buruk. hanya ada hitam dan putih, tidak ada monokromatisasinya!
...................malang, 3 romadhon 1429 H (lagi bingung, sebenernya aku nulis apaan sih?)

0 'ur comment: