Kutebar mahkotaku...

Photobucket
Bismillahirrahmanirrahiim...
Ahlan wa sahlan..
selamat datang di blog saia, bunga perantau
setangkai bunga yang tumbuh di peradaban..
berharap bisa berbagi kisahnya dalam perjalanan penuh makna
agar layunya tak membusuk tanpa arti
agar layunya mendapat tempat yang indah di museum hamba-hamba terpilih

Jundullah Always, insya Allah

21.12.08

kesibukan bertubi-tubi..

bismillahirrahmanirrahiim..

Allah ya Rahman Ya Rahiim, tak henti rahmatmu mengalir deras di setiap detik waktu berjalan..
Kau selalu yakinkan bahwa tak ada sesuatu yang berjalan tanpa kehendakMu
Engkau yakinkan aku bahwa tak ada yang patut kujadikan sandaran selainMu

alhamdulillah setelah lama tak berkunjung ke dunia maya, akhirnya Kau beri kesempatan kembali untuk berbagi dengan semua. Berbagi tentang apa yang layak untuk dibagi, bukan tentang sesuatu yang tidaklah penting utnuk dibicarakan.

bulan-bulan ini merupakan bulan-bulan padat penuh aktivitas. Selain aktivitas kuliah, beberapa program kerja di organisasi baik yang rutin maupun berkala sedang giat dilaksanakan. Tak henti kuucap syukur karna kaki ini masih kuat menapak walau terik matahari mengancam tubuh kecil ini menyusuri jalan setapak kampus tercinta, pundak ini masih tegak meski hujan siap mengguyur dan angin siap untuk menggoyahkan badan yang tetap berdiri melangkah menegakkan panji-panji keislaman di rumah kedua, kampus UB.

Ada beberapa acara yang alhamdulillah bisa berjalan dengan "lancar", yah..karna memang tak ada yang sempurna.
1. Krida Teknik 2008, acara rutin tahunan fakultas teknik untuk menggodok mahasiswa bau yang diasumsikan belum banyak mengenal dunia kampus.
2. BALADA (Bakti Sosial Idul Adha), kali ini bertempat di desa Wagir, nun jauh di di badan gunung antah berantah,, seandaianya aku pergi sendiri, mungkin tak bisa pulang aku ini..
selebihnya ya..acara-acara di pusat kampus dan luar kampus yang benar-benar mendidik diri ini menjadi pribadi yang kian baik dari hari ke hari, insya Allah..

tugas-tugas kuliah yang menumpuk sempat menyurutkan langkah untuk berjuang kembali,tapi, disadari bahwa memang kita ini hidup bagai dipenjara yang terikat dengan aturan-aturan dan kerja rodi yang melelahkan, maka segala halang rintang yang menghadang akan tetap dihadapi. mengapa? karna saat aku keluar dari penjara, kuyakini, aku akan melihat surga.. Allahu akbar!!

Allah, aku tahu Engkau ada..selalu ada..luph U always,,

Bahaya Permisifitas dalam Dakwah

Bismillahirohmanirohim,..
ada posting bagus dulu..banget oleh mbak lathiyfah,, pengen dibagi aja, biar kauand taw,,


Mihwar dakwah yang semakin meningkat menghadirkan sebuah konsekuensi logis akan keterlibatan dakwah dalam sebuah struktur, baik secara kemasyarakatan (horizontal) maupun secara ketatanegaraan (vertikal). capaian mihwar dakwah yang telah menginjak anak tangga muasasi telah menghadirkan situasi dan kondisi yang semakin beragam, tantangan yang semakin besar, serta tekanan dalam mempertahankan ideologi Islam yang diusung oleh jamaah dakwah ini.
Ketika jamaah dakwah ini telah memutuskan untuk bersiyasah, maka ada konsekuensi2 logis yang harus ditanggung. Langkah ini merupakan sebuah lompatan besar dalam dakwah, oleh karena itu, harus diusung oleh orang2 yang berjiwa dan pikiran besar pula. Tidak terbayangkan jika pengusungnya adalah orang2 yang hati dan jiwanya kerdil, otomatis org2 seperti ini akan terjebak dalam kepentingan politis yang semu dan temporal.
Padahal, jamaah dakwah ini memiliki Visi yang luar biasa agungnya, yaitu: menjadikan Islam sebagai soko guru dunia (ustadziyatul 'alam) dengan salah satu Misinya adalah: Menegakkan kekhilafahan.
Orang-orang kerdil yang tidak punya visi itulah yang kemudian membuat dakwah hanya berjalan di tempat saja. Dengan basis pemikiran (qo'idah fikriyyah) seperti merekalah jalan dakwah yang telah dirintis oleh para muassis dakwah akan hancur, sehingga gerakan dakwah ini akan kembali pada starting point lagi.
Keputusan2 org2 kerdil yang cenderung mengikuti arus inilah yang akan membuat jamaah dakwah ini jauh dari Allah, karena keberadan partai dakwah yang tadinya ditujukan untuk membuktikan bahwa politik tidak selamanya bersifat profan, malah menuai hasil kontraproduktif: bahwa ya! politik memanglah hal yang bersifat profan.
Solusi mengatasinya hanyalah kembali kepada ash sholah dakwah, bahwa dakwah ini adalah seruan untuk mengajak kepada yang haq dan mencegah dari yang mungkar. Dan tidak ada toleransi antara yang baik dan yang buruk. hanya ada hitam dan putih, tidak ada monokromatisasinya!
...................malang, 3 romadhon 1429 H (lagi bingung, sebenernya aku nulis apaan sih?)